ACARA
VIII
EVAPOTRANSPIRASI
JENSEN-HAISE
I.
TUJUAN
Memberikan
pemahaman tentang evapotranspirasi, serta memberikan kemampuan kepada mahasiswa
dalam melakukan perhitungan dengan berbagai metode perhitungan evapotranspirasi
yang ada, khususnya metode perhitungan evapotranspirasi Jensen-Haise.
II.
ALAT
DAN BAHAN
1. Data
klimatologi (kecamatan Jumantono, Stasiun PUSLITBANG FP UNS, Karanganyar)
2. Alat
tulis
3. Kalkulator
III.
DASAR
TEORI
Evapotranspirasi
adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan tanah, air dan
vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer oleh adanya pengaruh faktor-faktor
iklim dan fisiologi vegetasi. Dengan kata lain, besarnya evapotranspirasi
adalah jumlah antara evaporasi (penguapan air berasal dari permukaan tanah),
intersepsi (penguapan kembali air hujan dari permukaan tajuk vegetasi) dan
transpirasi (penguapan air tanah ke atmosfer melalui vegetasi). Beda antara
intersepsi dan transpirasi adalah pada proses intersepsi air yang diuapkan
kembali ke atmosfer tersebut adalah air hujan yang tertampung sementara pada
permukaan tajuk dan bagian lain dari suatu vegetasi, sedangkan transpirasi
adalah penguapan air yang berasal dari dalam tanah melalui tajuk vegetasi
sebagai hasil proses fisiologi vegetasi.
Pada siklus
hidrologi menunjukan bahwa evapotranspirasi (ET) adalah jumlah dari beberapa
unsur seperti pada persamaan matematik berikut :
ET = T + It + Es
+ Eo
T = transpirasi
vegetasi, It = Intersepsi total, Es = Evaporasi dari tanah,batuan dan jenis
permukaan tanah lainnya, dan Eo = Evaporasi permukaan air terbuka seperti
sungai, danau dan waduk. Untuk tegakan hutan, Eo dan Es biasanya diabaikan dan
ET = T + It. Bila unsur vegetasi dihilangkan, ET = Es.
Faktor-Faktor Penentu
Evapotranspirasi
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap besarnya
evapotranspirasi, maka dalam hal ini evapotranspirasi perlu dibedakan menjadi
evapotranspirasi potensial (PET) dan evapotranspirasi aktual (AET). PET lebih
dipengaruhi oleh faktor-faktor meteorologi, sementara AET dipengaruhi oleh fisiologi
tanaman dan unsur tanah.
Faktor-faktor
dominan yang mempengaruhi PET adalah radiasi panas matahari dan suhu,
kelembaban atmosfer dan angin, dan secara umum besarnya PET akan meningkat
ketika suhu, radiasi panas matahari, kelembaban, dan kecepatan angin bertambah
besar.
Pengaruh
radiasi panas matahari terhadap PET adalah melalui proses fotosintesis. Dalam
mengatur hidupnya, tanaman memerlukan sirkulasi air melalui sistem
akar-batang-daun. Sirkulasi perjalanan air dari bawah (perakaran) ke atas
(daun) dipercepat dengan meningkatnya jumlah radiasi panas matahari terhadap
vegetasi yang bersangkutan. Pengaruh suhu terhadap PET dapat dikatakan secara
langsung berkaitan dengan intensitas dan lama waktu radiasi matahari. Suhu yang
akan mempengaruhi PET adalah suhu daun dan bukan suhu udara di sekitar daun.
Pengaruh angin terhadap PET akan melalui mekanisme dipindahkannya uap air yang
keluar dari pori-pori daun. Semakin besar kecepatan angin, semakin besar pula
laju evapotranspirasinya. Dibandingkan dengan pengaruh radiasi panas matahari,
pengaruh angin terhadap laju ET adalah lebih kecil (de Vries and van Duin dalam
Ward, 1967).
Kelembaban tanah
juga ikut mempengaruhi terjadinya evapotranspirasi. Evapotranspirasi
berlangsung ketika vegetasi yang bersangkutan sedang tidak kekurangan suplai
air (Penman, 1956 dalam Ward, 1967). Dengan kata lain evapotranspirasi
(potensial) berlangsung ketika kondisi kelembaban tanah berkisar antara titik
wilting point dan field capacity. Karena ketersediaan air dalam tanah tersebut
ditentukan oleh tipe tanah, dengan demikian, secara tidak langsung peristiwa
PET juga dipengaruhi oleh faktor potensial.
Metode Jansen-Haise
Rumus :
Ep = (0,025 T + 0,08) x 
Dimana :
Ep
= evapotranspirasi potensial (mm/hr)
Hsh = gelombang pendek radiasi
[datang/berikutnya] (cal cm-2 hari-1)
T
= temperatur udara (°C)
IV.
LANGKAH
KERJA
1. Menyiapkan
data untuk perhitungan.
2. Menginput
data ke dalam kolom hasil perhitungan.
3. Menghitung
Evapotranspirasi dengan rumus yang telah ada.
4. Menghitung
Evapotranspirasi dalam bulan.
5. Membahas
hasil yang diperoleh.
6. Menyimpulkan.
V.
HASIL
PRAKTIKUM
|
Bulan
|
HSH
|
TºC
|
Ep
|
|
Januari
|
491,74
|
27
|
194,99
|
|
Februari
|
440,16
|
26,90
|
157,08
|
|
Maret
|
447,5
|
27
|
177,63
|
|
April
|
537,86
|
26,90
|
205,8
|
|
Mei
|
524,13
|
27,30
|
209,87
|
|
Juni
|
510,88
|
26,50
|
192,9
|
|
Juli
|
487,7
|
26,60
|
190,96
|
|
Agustus
|
563,9
|
26,30
|
218,55
|
|
September
|
591,77
|
27,20
|
228,6
|
|
Oktober
|
614,38
|
27,60
|
248,62
|
|
Nopember
|
544,35
|
26,90
|
208,2
|
|
Desember
|
469,24
|
26,20
|
181,35
|
VI.
PEMBAHASAN
Telah diketahui
bahwa evapotranspirasi merupakan keseluruhan jumlah air yang berasal dari
permukaan tanah, air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer oleh adanya
pengaruh faktor-faktor iklim dan fisiologi vegetasi.
Dari pengertian
tersebut, maka dapat diketahui bahwa evapotranspirasi dapat dicari berapa
jumlahnya. Menilik dari hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dalam
mencari jumlah evapotranspirasi dapat dilakukan dengan beberapa metode.
Diantaranya adalah Penman dan Thornthwaite yang pernah dibahas pada acara
sebelumnya dan Jansen Haise yang menjadi bahasan pada acara ini.
Dalam metode Jansen
haise, data yang digunakan adalah gelombang pendek radiasi atau HSH
dan suhu udara atau temperatur (T). Seperti pada dasar teori, rumus yang
digunakan adalah Ep = (0,025 T + 0,08) x 
Dari rumus yang
ada, maka dapat dicari seberapa besar Evapotranspirasi. Akan tetapi, dalam
pencarian Evapotranspirasi per bulan maka perlu mengalikan jumlah hari dalam bulan
dengan rumus yang ada. Sebagai contoh adalah Evapotranspirasi pada bulan
januari. Dalam bulan januari, hasil perhitungan dengan rumus adalah 6,29. Itu
berarti setiap harinya Evapotranspirasi sebesar 6,29 mm/hr. Kemudian dari hasil
itu, dikalikan dengan 31 yang mana merupakan jumlah hari dalam bulan januari.
Sehingga hasilnya adalah 194,99 mm/bulan. Dan itu berarti dalam bulan januari,
total evapotranspirasi adalah 194,99.
VII.
KESIMPULAN
1. Dalam
mencari evapotranspirasi, selain menggunakan metode Penman dan Thornthawaite
juga dapat dilakukan dengan metode Jansen-Haise.
2. Dalam
mencari evapotranspirasi harian dengan metode Jansen-Haise dapat menggunakan
rumus sebagai berikut:
Ep = (0,025 T + 0,08) x
3. Apabila
yang dicari adalah total evapotranspirasi per bulan maka dapat dilakukan dengan
mengalikan Ep dengan total hari dalam bulan. Sebagai contoh adalah perhitungan
evapotranspiasi pada bulan januari. Dalam bulan januari,
hasil perhitungan dengan rumus adalah 6,29. Itu berarti setiap harinya
Evapotranspirasi sebesar 6,29 mm/hr. Kemudian dari hasil itu, dikalikan dengan
31 yang mana merupakan jumlah hari dalam bulan januari. Sehingga hasilnya
adalah 194,99 mm/bulan. Dan itu berarti dalam bulan januari, total
evapotranspirasi adalah 194,99.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2014. Modul Praktikum Hidrometeorologi. Surakarta: Fakultas Geografi
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
No comments:
Post a Comment